CERPEN - Sepasang Bocah yang Menanam Kenangan di Pekarangan Belakang (TRIBUN JABAR, 8 Januari 2017)


POHON KENANGAN
MARI menanam pohon kenangan, ajakmu, sebelum banjir merah menggenangi jalan komplek depan rumah kita. Lalu, kita menggali lubang dengan jari-jemari kita yang masih mungil. Tanah memenuhi kukumu. Tumben, kau tidak bergidik jijik. Biasanya kau tak suka bermain sampai kotor. Ibuku akan marah, itu alasan yang sering kau ucapkan dan bayangan wajah ibumu yang dingin, bengis, bertaring seperti ibunya Nobita saat marah akan memenuhi benakku.
“Apa yang harus kita tanam?” aku bertanya kembali sambil menikmati bulir-bulir keringat yang mengalir di pipi putihmu. Ingin kuseka, tapi urung. Tanganku belepotan tanah dan aku tak ingin pipi putih bersihmu ternoda. Aku membayangkan ibumu bertengger di pipimu, berkacak pinggang, memegang sapu dan dia siap menyabet jemariku yang akan menyentuh pipimu.
“Pohon kenangan,” kau menjawab dengan suara mendesis, seperti udara yang berhembus di antara reranting dan daun-daun kuning yang berguguran.
“Pohon kenangan. Seperti apa dia?” aku berpikir sejenak. “Apa dia semacam biji pohon apel?” aku mengerutkan kening.
Kau terkekeh geli, riang dan renyah. “Bukan. Dia ada di sini,” kau menunjuk pelipismu, “dan di sini,” lalu dadamu.
Aku menelan ludah. Bayangan sesuatu melintas di benakku, tapi kutepis.
“Maksudmu kita harus mengubur diri hidup-hidup?” aku bergidik, bulu kudukku meremang. Kau kembali tertawa, lebih nyaring, lebih merdu, lebih syahdu.
“Bodoh!” kau mendorong keningku, aku menyeringai, memamerkan gigi dan senyum tengik.
“Lalu apa?”
“Ya, pohon kenangan.” Kau menjawab singkat. Aku bingung. “Selesaikan saja dulu lubangnya,” lalu kita menggali tanpa bersuara. Namun aku tahu dalam kesunyian kata dan bahasa, gestur kita telah bercerita jauh lebih banyak dan jauh lebih dalam dari kalimat apa pun.
Saat lubang selesai digali, kita menanam sepasang kaki masing-masing.
“Berjanjilah, kita akan mengunjunginya bertahun-tahun kemudian. Setelah pohon kenangan ini merimbun dalam ingatan.” Dan aku mengangguk tanda setuju.
Kita tak tahu, tak pernah tahu, esoknya hujan berwarna merah turun di kota kita. Lalu banjir warna serupa menggenangi seluruh selokan, jalan, rumah, mall, kantor dan di setiap sudut kota. Ajaibnya pohon kenangan kita tidak membusuk lalu mati, dia justru tumbuh subur, merimbun bersama ingatan tentang banjir dan hujan merah, serta musim panas yang datang tiba-tiba dari segala gedung yang lelah membeku.
Sayangnya, musim hujan dan panas yang datang mendadak dan tak tertebak jua yang justru membentangkan jarak antara kita. Kita tak sempat saling melambaikan tangan, tak jua sempat bertukar alamat dan nomor telepon. Aku hanya tahu, banjir datang menyapu rumahmu, mengotori pekarangan tempat kita menanam pohon kenangan. Lalu rumahmu tak ingin membeku sendirian, ia berdansa dengan tarian dan musik yang panas, yang membuatnya ingin mencintai secara sederhana seperti kayu dan api Sapardi. Kau pergi. Aku pergi. Namun kita telah berjanji untuk kembali, kelak ke halaman belakang yang menulis cerita tentang kita.
PUISI INGATAN
MARI menulis puisi, ajakmu, sebelum kau mencetuskan ide menanam pohon kenangan dan musim yang tak bersahabat membentangkan jarak setelahnya.
“Untuk apa?” aku terus bertanya, seolah pertanyaan telah beranak pinak dalam kepala dan mulutku.
“Untuk merayakan perpisahan dan ingatan-ingatan yang akan terlupa saat kita tua.”
Aku baru sadar sekarang, jauh sebelum hujan dan banjir merah menyapu rumah kita, kau seolah telah tahu jika jarak akan membentang, lalu hanya ingatan demi ingatan yang akan kita miliki sebagai bekal untuk berjalan ke halaman depan atau pun pekarangan belakang.
“Jika besar, kau ingin jadi apa?” aku kembali bertanya, di antara rima puisi yang tak kunjung bisa kuracik.
Hei, sudah pernahkah kubilang padamu jika aku menyukai sepasang matamu? Mata yang seperti biji kacang almond. Dari matamu yang mungil, aku seakan menemukan dunia kita yang luas, seperti cakrawala. Aku menyukai apa-apa tentangmu. Rambut hitam lurusmu. Bibir mungilmu. Jari-jemari lentikmu dengan kuku yang putih.
“Aku bukan babi kecil yang ingin terbang,” ujarmu. Dan kita tergelak. Bersama. Entah, apa yang lucu? Oh, bukankah untuk tertawa kita tak butuh alasan? Sebab, terkadang untuk menangis pun kita tak butuh alasan. Kita bebas tertawa ketika kita ingin tertawa, kita bebas menangis ketika ingin menangis. Namun aku tahu sekarang, kita tertawa saat itu bukan karena jawabanmu lucu, tetapi kita tertawa karena ironilah yang lucu.
“Lalu, kau ingin jadi apa?”
Kau terdiam sejenak, memandangku dengan saksama, kemudian tersenyum.
“Aku ingin menjadi apa pun yang bisa membuatku bahagia.”
“Apa yang membuatmu bahagia?”
“Menjadi boneka barbie, mungkin.”
Aku mencibir dan kita tahu tak ada boneka barbie yang hidup bahagia. Sebab menjadi barbie katamu berarti menjadi apa pun yang diinginkan oleh anak-anak perempuan, bukan menjadi apa yang dia inginkan.
“Kalau kau mau jadi apa?”
“Aku ingin jadi Peter Pan.”
“Agar bisa terbang dan hidup di negeri peri?”
Aku menggeleng. “Lalu?” kau menunggu.
“Agar aku tak jadi dewasa dan bisa terus bahagia dalam wujud kanak-kanak.”
Kita terdiam. Di dalam puisi, kita memang bebas menjadi apa pun, bahkan menjadi kanak-kanak yang terus menerus tanpa membesar sedikit pun. Namun puisiku masih tak berwujud, dia hanya secarik kertas putih yang ingin kutulisi rima dan bahasa, lalu kata akan menjelma bunyi. Dan gaungnya akan membawa segala rasa dan jiwa terbang menuju ruang tanpa sekat. Kita boleh memilih tersesat atau pulang.
“Kau tak ingin dewasa?” tanyamu dan aku menjawab dengan anggukan. “Kenapa?”
“Karena menjadi dewasa berarti menjadi monster.”
Tanpa bahasa dan kata, kau sudah tahu apa yang akan kuceritakan. Fragmen-fragmen tentang ayah dan ibuku dapat kau gambar dengan sangat detail, termasuk ke bagian-bagian terkecilnya. Kau hapal intonasi suara yang tiba-tiba meninggi di tengah heningnya malam dari rumahku, lalu piring, gelas dan tangis akan menjadi paduan suara paling pilu dan syahdu. Tak ada pianis, sebab denting piano tak kuasa untuk menyumbang not dalam bentuk apa pun.
“Tapi kita akan tetap menjadi tua.”
“Dalam puisi kita tak akan menjadi tua.”
“Tapi kita bukanlah larik puisi.”
“Aku ingin menjadi puisi kalau begitu.”
“Tadi kau ingin jadi Peter Pan.”
Lalu kita tergelak lagi sampai mata berair, seakan renta adalah impian terbesar tapi lucu.
MUSIM HAMA
PADA musim yang menua, kita menyemai benih ingatan, lalu kita merapal matra-mantra kuno para petani, berharap hasil baik akan kita tunai di masa panen. Namun, siapa yang bisa menebak nasib atau takdir?
Musim hama datang tanpa bisa diterka, setelah hujan dan banjir merah, kita terseok-seok menjadi cara untuk selamat. Ah, aku yakin, di masa itu kau bersepakat denganku, menjadi dewasa itu mengerikan. Menjadi dewasa berarti menjadi monster.
Orang dewasalah yang menanam pohon kenangan bernama khuldi di pekaranganmu. Mereka mencangkul dan menggali tanpa izin, tanpa permisi. Lalu, ular yang telah memperdayai ibu dan bapak leluhur kita mendesis girang di kanopi pohon kenangan yang mereka tancapkan.
Sungguh, aku baru tahu, bila sehari setelah kita menanam pohon kenangan di pekarang belakang, ada orang-orang dewasa yang datang menunggang air bah merah dan api besar, mereka menenggelamkan ibu dan ayahmu, juga dirimu. Namun kau tidak mati. Kau lemas. Terluka. Sekarat. Padahal kau berharap kau mati karena menurutmu, mati lebih baik daripada hidup bersama pohon kenangan bernama khuldi yang tubuh di bawah perutmu.
Begitulah waktu menggilas pohon, puisi dan bahkan dirimu. Kau menghilang, ditelan ingatan yang terus basah dalam kepala. Telah berapa musim yang melewati halaman belakang rumahmu? Pohon kenangan telah tumbuh menyemak, merimbun bersama sepasang kaki kecil kita yang tertanam di sana. Setiap musim aku datang bertandang, berharap kau juga datang memenuhi janji untuk menengoknya. Namun aku harus tahu, janji adalah fana, seperti waktu yang tak bisa digenggam.
Pada setiap daun yang gugur dari pohon kenangan, aku melantunkan puisi yang pernah kita tulis bersama. Sebab hanya bersama puisi aku dapat merayakan kehilangan dan di dalam larik puisi aku menemukan ingatan demi ingatan yang perlahan menghilang karena usia.
Aku percaya, keinginan kita tetaplah sama; menjadi renta bersama puisi yang tak menua.
MENJADI PUISI
DELAPAN belas tahun sejak kita menanam pohon kenangan di pekarang belakang, lalu hujan dan banjir bah merah datang melanda, sampai sekarang aku masih mengingat semuanya dengan jelas. Kuku bersihmu yang kotor karena tanah, degup jantungku yang tak biasa karena aku ingin menyapu pipi berkeringatmu dengan tanganku yang belepotan tanah. Seolah aku ingin menyapu bibirmu dengan bibirku.
Ketika itu aku bermimpi, pohon kenangan kita akan tumbuh rindang dan kita dapat berteduh di bawahnya sembari bermain dengan riang dan bahagia khas kanak-kanak. Namun semenjak musim berubah tanpa terduga, ingatanku tentang semua itu hanyalah satu saja: Pohon khuldi yang ditanam orang-orang dewasa suruhan ular dari neraka.
Aku seperti layang-layang yang kehilangan angin sejak kehilanganmu dan aku baru menyadari betapa menyedihkan hidup tanpa dirimu. Walau aku membenci ibumu yang cerewet dan monoton, juga kerap menunjuk-nunjuk diriku sebagai anak paduan suara tengah malam buta. Namun aku tahu, aku mencintaimu, seperti kamu mencintai kata-kata dalam bahasa.
Kita pasti akan renta. Kau menua. Aku menua. Kita berdua akan tua. Namun sebelum kita menderita alzheimer, aku ingin kita kembali bersua dan menengok pohon kenangan yang kita tanam bersama di pekarangan belakang. Aku ingin kita menjelma buku yang utuh, yang telah memulai cerita dari halaman pertama dan menutupnya di halaman belakang, dan kita bisa kembali menulis puisi. Memilin sajak yang menjebak kebahagiaan kanak-kanak.
Sebab katamu, hanya di dalam puisi kita menjadi suci. Lalu tahun-tahun gugur menjelma kompos yang membuat kita tumbuh subur dan menjaga jarak dari ibu dan masa lalu. []

Rumah Muara – Cikini Raya – G59, 2016

setelah obrolan bersama Sarasdewi dan Okky Madasari di ALF 2016.

Komentar