POHON
KENANGAN
MARI menanam pohon kenangan, ajakmu, sebelum banjir
merah menggenangi jalan komplek depan rumah kita. Lalu, kita menggali lubang
dengan jari-jemari kita yang masih mungil. Tanah memenuhi kukumu. Tumben, kau
tidak bergidik jijik. Biasanya kau tak suka bermain sampai kotor. Ibuku akan
marah, itu alasan yang sering kau ucapkan dan bayangan wajah ibumu yang dingin,
bengis, bertaring seperti ibunya Nobita saat marah akan memenuhi benakku.
“Apa
yang harus kita tanam?” aku bertanya kembali sambil menikmati bulir-bulir
keringat yang mengalir di pipi putihmu. Ingin kuseka, tapi urung. Tanganku
belepotan tanah dan aku tak ingin pipi putih bersihmu ternoda. Aku membayangkan
ibumu bertengger di pipimu, berkacak pinggang, memegang sapu dan dia siap menyabet
jemariku yang akan menyentuh pipimu.
“Pohon
kenangan,” kau menjawab dengan suara mendesis, seperti udara yang berhembus di
antara reranting dan daun-daun kuning yang berguguran.
“Pohon
kenangan. Seperti apa dia?” aku berpikir sejenak. “Apa dia semacam biji pohon
apel?” aku mengerutkan kening.
Kau
terkekeh geli, riang dan renyah. “Bukan. Dia ada di sini,” kau menunjuk pelipismu,
“dan di sini,” lalu dadamu.
Aku
menelan ludah. Bayangan sesuatu melintas di benakku, tapi kutepis.
“Maksudmu
kita harus mengubur diri hidup-hidup?” aku bergidik, bulu kudukku meremang. Kau
kembali tertawa, lebih nyaring, lebih merdu, lebih syahdu.
“Bodoh!”
kau mendorong keningku, aku menyeringai, memamerkan gigi dan senyum tengik.
“Lalu
apa?”
“Ya,
pohon kenangan.” Kau menjawab singkat. Aku bingung. “Selesaikan saja dulu
lubangnya,” lalu kita menggali tanpa bersuara. Namun aku tahu dalam kesunyian
kata dan bahasa, gestur kita telah bercerita jauh lebih banyak dan jauh lebih dalam
dari kalimat apa pun.
Saat
lubang selesai digali, kita menanam sepasang kaki masing-masing.
“Berjanjilah,
kita akan mengunjunginya bertahun-tahun kemudian. Setelah pohon kenangan ini
merimbun dalam ingatan.” Dan aku mengangguk tanda setuju.
Kita
tak tahu, tak pernah tahu, esoknya hujan berwarna merah turun di kota kita.
Lalu banjir warna serupa menggenangi seluruh selokan, jalan, rumah, mall,
kantor dan di setiap sudut kota. Ajaibnya pohon kenangan kita tidak membusuk
lalu mati, dia justru tumbuh subur, merimbun bersama ingatan tentang banjir dan
hujan merah, serta musim panas yang datang tiba-tiba dari segala gedung yang
lelah membeku.
Sayangnya,
musim hujan dan panas yang datang mendadak dan tak tertebak jua yang justru membentangkan
jarak antara kita. Kita tak sempat saling melambaikan tangan, tak jua sempat
bertukar alamat dan nomor telepon. Aku hanya tahu, banjir datang menyapu
rumahmu, mengotori pekarangan tempat kita menanam pohon kenangan. Lalu rumahmu
tak ingin membeku sendirian, ia berdansa dengan tarian dan musik yang panas,
yang membuatnya ingin mencintai secara sederhana seperti kayu dan api Sapardi.
Kau pergi. Aku pergi. Namun kita telah berjanji untuk kembali, kelak ke halaman
belakang yang menulis cerita tentang kita.
♦
PUISI
INGATAN
MARI menulis puisi, ajakmu, sebelum kau mencetuskan ide
menanam pohon kenangan dan musim yang tak bersahabat membentangkan jarak
setelahnya.
“Untuk
apa?” aku terus bertanya, seolah pertanyaan telah beranak pinak dalam kepala
dan mulutku.
“Untuk
merayakan perpisahan dan ingatan-ingatan yang akan terlupa saat kita tua.”
Aku
baru sadar sekarang, jauh sebelum hujan dan banjir merah menyapu rumah kita,
kau seolah telah tahu jika jarak akan membentang, lalu hanya ingatan demi
ingatan yang akan kita miliki sebagai bekal untuk berjalan ke halaman depan
atau pun pekarangan belakang.
“Jika
besar, kau ingin jadi apa?” aku kembali bertanya, di antara rima puisi yang tak
kunjung bisa kuracik.
Hei,
sudah pernahkah kubilang padamu jika aku menyukai sepasang matamu? Mata yang
seperti biji kacang almond. Dari matamu yang mungil, aku seakan menemukan dunia
kita yang luas, seperti cakrawala. Aku menyukai apa-apa tentangmu. Rambut hitam
lurusmu. Bibir mungilmu. Jari-jemari lentikmu dengan kuku yang putih.
“Aku
bukan babi kecil yang ingin terbang,” ujarmu. Dan kita tergelak. Bersama.
Entah, apa yang lucu? Oh, bukankah untuk tertawa kita tak butuh alasan? Sebab,
terkadang untuk menangis pun kita tak butuh alasan. Kita bebas tertawa ketika
kita ingin tertawa, kita bebas menangis ketika ingin menangis. Namun aku tahu
sekarang, kita tertawa saat itu bukan karena jawabanmu lucu, tetapi kita
tertawa karena ironilah yang lucu.
“Lalu,
kau ingin jadi apa?”
Kau
terdiam sejenak, memandangku dengan saksama, kemudian tersenyum.
“Aku
ingin menjadi apa pun yang bisa membuatku bahagia.”
“Apa
yang membuatmu bahagia?”
“Menjadi
boneka barbie, mungkin.”
Aku
mencibir dan kita tahu tak ada boneka barbie yang hidup bahagia. Sebab menjadi
barbie katamu berarti menjadi apa pun yang diinginkan oleh anak-anak perempuan,
bukan menjadi apa yang dia inginkan.
“Kalau
kau mau jadi apa?”
“Aku
ingin jadi Peter Pan.”
“Agar
bisa terbang dan hidup di negeri peri?”
Aku
menggeleng. “Lalu?” kau menunggu.
“Agar
aku tak jadi dewasa dan bisa terus bahagia dalam wujud kanak-kanak.”
Kita
terdiam. Di dalam puisi, kita memang bebas menjadi apa pun, bahkan menjadi
kanak-kanak yang terus menerus tanpa membesar sedikit pun. Namun puisiku masih
tak berwujud, dia hanya secarik kertas putih yang ingin kutulisi rima dan
bahasa, lalu kata akan menjelma bunyi. Dan gaungnya akan membawa segala rasa
dan jiwa terbang menuju ruang tanpa sekat. Kita boleh memilih tersesat atau
pulang.
“Kau
tak ingin dewasa?” tanyamu dan aku menjawab dengan anggukan. “Kenapa?”
“Karena
menjadi dewasa berarti menjadi monster.”
Tanpa
bahasa dan kata, kau sudah tahu apa yang akan kuceritakan. Fragmen-fragmen
tentang ayah dan ibuku dapat kau gambar dengan sangat detail, termasuk ke
bagian-bagian terkecilnya. Kau hapal intonasi suara yang tiba-tiba meninggi di
tengah heningnya malam dari rumahku, lalu piring, gelas dan tangis akan menjadi
paduan suara paling pilu dan syahdu. Tak ada pianis, sebab denting piano tak
kuasa untuk menyumbang not dalam bentuk apa pun.
“Tapi
kita akan tetap menjadi tua.”
“Dalam
puisi kita tak akan menjadi tua.”
“Tapi
kita bukanlah larik puisi.”
“Aku
ingin menjadi puisi kalau begitu.”
“Tadi
kau ingin jadi Peter Pan.”
Lalu
kita tergelak lagi sampai mata berair, seakan renta adalah impian terbesar tapi
lucu.
♦
MUSIM
HAMA
PADA musim yang menua, kita menyemai benih ingatan, lalu
kita merapal matra-mantra kuno para petani, berharap hasil baik akan kita tunai
di masa panen. Namun, siapa yang bisa menebak nasib atau takdir?
Musim
hama datang tanpa bisa diterka, setelah hujan dan banjir merah, kita
terseok-seok menjadi cara untuk selamat. Ah, aku yakin, di masa itu kau
bersepakat denganku, menjadi dewasa itu mengerikan. Menjadi dewasa berarti
menjadi monster.
Orang
dewasalah yang menanam pohon kenangan bernama khuldi di pekaranganmu. Mereka
mencangkul dan menggali tanpa izin, tanpa permisi. Lalu, ular yang telah
memperdayai ibu dan bapak leluhur kita mendesis girang di kanopi pohon kenangan
yang mereka tancapkan.
Sungguh,
aku baru tahu, bila sehari setelah kita menanam pohon kenangan di pekarang
belakang, ada orang-orang dewasa yang datang menunggang air bah merah dan api
besar, mereka menenggelamkan ibu dan ayahmu, juga dirimu. Namun kau tidak mati.
Kau lemas. Terluka. Sekarat. Padahal kau berharap kau mati karena menurutmu,
mati lebih baik daripada hidup bersama pohon kenangan bernama khuldi yang tubuh
di bawah perutmu.
Begitulah
waktu menggilas pohon, puisi dan bahkan dirimu. Kau menghilang, ditelan ingatan
yang terus basah dalam kepala. Telah berapa musim yang melewati halaman
belakang rumahmu? Pohon kenangan telah tumbuh menyemak, merimbun bersama
sepasang kaki kecil kita yang tertanam di sana. Setiap musim aku datang
bertandang, berharap kau juga datang memenuhi janji untuk menengoknya. Namun
aku harus tahu, janji adalah fana, seperti waktu yang tak bisa digenggam.
Pada
setiap daun yang gugur dari pohon kenangan, aku melantunkan puisi yang pernah
kita tulis bersama. Sebab hanya bersama puisi aku dapat merayakan kehilangan
dan di dalam larik puisi aku menemukan ingatan demi ingatan yang perlahan
menghilang karena usia.
Aku
percaya, keinginan kita tetaplah sama; menjadi renta bersama puisi yang tak
menua.
♦
MENJADI
PUISI
DELAPAN belas tahun sejak kita menanam pohon kenangan di
pekarang belakang, lalu hujan dan banjir bah merah datang melanda, sampai
sekarang aku masih mengingat semuanya dengan jelas. Kuku bersihmu yang kotor
karena tanah, degup jantungku yang tak biasa karena aku ingin menyapu pipi
berkeringatmu dengan tanganku yang belepotan tanah. Seolah aku ingin menyapu
bibirmu dengan bibirku.
Ketika
itu aku bermimpi, pohon kenangan kita akan tumbuh rindang dan kita dapat
berteduh di bawahnya sembari bermain dengan riang dan bahagia khas kanak-kanak.
Namun semenjak musim berubah tanpa terduga, ingatanku tentang semua itu
hanyalah satu saja: Pohon khuldi yang ditanam orang-orang dewasa suruhan ular
dari neraka.
Aku
seperti layang-layang yang kehilangan angin sejak kehilanganmu dan aku baru
menyadari betapa menyedihkan hidup tanpa dirimu. Walau aku membenci ibumu yang
cerewet dan monoton, juga kerap menunjuk-nunjuk diriku sebagai anak paduan
suara tengah malam buta. Namun aku tahu, aku mencintaimu, seperti kamu
mencintai kata-kata dalam bahasa.
Kita
pasti akan renta. Kau menua. Aku menua. Kita berdua akan tua. Namun sebelum
kita menderita alzheimer, aku ingin kita kembali bersua dan menengok pohon
kenangan yang kita tanam bersama di pekarangan belakang. Aku ingin kita
menjelma buku yang utuh, yang telah memulai cerita dari halaman pertama dan
menutupnya di halaman belakang, dan kita bisa kembali menulis puisi. Memilin
sajak yang menjebak kebahagiaan kanak-kanak.
Sebab
katamu, hanya di dalam puisi kita menjadi suci. Lalu tahun-tahun gugur menjelma
kompos yang membuat kita tumbuh subur dan menjaga jarak dari ibu dan masa lalu.
[]
Rumah Muara – Cikini Raya – G59, 2016
setelah obrolan bersama Sarasdewi dan
Okky Madasari di ALF 2016.

Komentar
Posting Komentar