ilustrasi diambil dari simplyzainitaayu.wordpress.com
CERITA
berisi pengakuan tokoh kita ini, aku dengar
langsung darinya,
sehari sebelum dia mengakhiri hidup dengan menembak kepalanya. Sungguh, aku
masih tak percaya jika dia bisa melakukan itu. Aku masih menerka-nerka sampai
sekarang, apa alasan yang telah mendorongnya mengambil jalan pintas itu? Dia
penulis laris. Punya fans fanatik yang akan membeli apa pun bukunya, bahkan
sekali pun dia menerbitkan buku yang hanya berisi catatan tentang kegiatan
hariannya yang membosankan dan memuakkan.
Nama
tokoh kita Je. Dia penulis novel tentang hantu-hantu yang kesepian. Ceritanya
terlalu muram, seperti hidupnya yang tak pernah bahagia. Kurasa, ada benarnya
juga omongan orang-orang yang mengatakan bila secara sadar atau pun tidak, para
penulis itu acapkali memasukan kisah hidupnya dalam tulisannya. Kuyakini Je pun
melakukan itu. Dan dialah tokoh kita dalam cerita ini.
Pengakuan
yang dia berikan padaku, bukan tentang hidupnya yang tak bahagia. Kalau hal
itu, aku sudah tahu cukup lama. Kami berteman sejak sepuluh tahun lalu, saat
sama-sama merintis karier menulis. Namun nasib baik lebih berpihak kepadanya.
Dia cepat populer dengan novel-novel muramnya. Sementara aku? Ah, dari sekian
banyak novelku, tak ada satu pun yang cetak ulang. Semua gagal di pasaran.
Bahkan aku pernah menemukan novelku yang terbit tiga bulan sebelumnya sudah
masuk rak obral.
Perihal
hidupnya yang tak bahagia, akan kuceritakan sekarang, sebelum aku mengisahkan
pengakuan yang mengejutkan –setidaknya bagiku.
♦
MENDENGAR cerita Je tentang hidupnya, seperti membaca halaman
novel picisan yang digemari para fansnya. Aku yakin sekali, jika Je menuliskan
cerita hidupnya dalam sebuah novel. Buku itu akan jauh lebih laris dan lebih
membekas di benak pembacanya, tinimbang novel terlarisnya sekali pun. Sayangnya
dia tak pernah melakukan itu.
“Kurasa
ada jiwa lain dalam diriku.”
Aku
ingat sekali dengan ucapannya itu. Kutatap wajahnya, mencari gurat-gurat
pertanda jika dia tengah bercanda. Sayangnya, aku tak menemukan itu. Dia
terlihat serius, jauh lebih serius dari sebelumnya.
“Jiwa
lain. Maksudmu?”
“Kau
pernah membaca novel tentang 24 Wajah Billy?” Dia justru balik bertanya.
Aku
mengangguk. Aku ingat dengan novel mengerikan itu. Kubaca saat masih duduk di
bangku kuliah.
“Maksudmu,
kau berkepribadian ganda?” aku menelengkan kepala, memusatkan perhatian pada
dirinya. Mengamati segala gerak geriknya.
“Kurasa
kurang tepat, tapi lebih kurang seperti itu.”
“Ada
berapa banyak jiwa dalam dirimu?” aku mengajukan pertanyaan itu sembari
terkekeh. Menepuk-nepuk pundaknya. “Kau terlalu berlebihan, Je. Setiap
pengarang memiliki banyak kepribadian, itulah yang membuatnya dapat menuliskan
berbagai karakter. Kurasa itu yang kau maksud.”
“Ibuku
bercerai saat aku berumur tujuh tahun. Lalu kami pindah ke Kota J.” Dia tak
mengacuhkan gurauanku. “Lalu setahun setelahnya dia menikah lagi. Ayah tiriku
punya dua orang anak laki-laki. Mereka sudah SMA. Dapat kau terka apa yang
terjadi pada adik tiri yang berumur delapan tahun?”
Dia
memandangku dengan kilatan mata yang tak biasa. Seperti ada perangkap
mengerikan yang tak bisa diraba di sana. Senyumnya tipis, seolah mengejek saat
aku menggeleng dan mengucapkan kata “tidak tahu”.
“Tidak
tahu atau kau terlalu takut membayangkannya?”
Aku
menelan ludah. Kuyakini sekarang, Je adalah hantu kesepian dari dongeng-dongeng
yang dia kemas sendiri dalam novelnya.
“Aku
harus tidur sekamar dengan dua kakak tiriku yang telah beranjak remaja. Usia 15
dan 17 tahun, waktu yang sempurna saat telur-telur matang dalam kantung kemih
mereka. Sayangnya, mereka tak punya tempat untuk menumpahkannya. Dan sialnya,
aku muncul di waktu yang sangat pas bagi mereka.”
Aku
menelan ludah lagi. Bulu kudukku meriap. Tengkukku dingin. Dan perutku… mual!
“Jika
kau ingin tahu rasanya, aku tak dapat menggambarkannya dengan sangat pas. Tapi
akan kuberi gambaran, seperti dikuliti. Dan tak ada yang bisa dilakukan selain
bertahan untuk terus hidup, walau kau sendiri tak pernah tahu, apa makna hidup
itu sendiri?”
Aku
senyap. Tak tahu harus berkata apa.
“Apa
ini semacam plot dari novel baru yang tengah kau garap?” aku berusaha
tersenyum, walau kuyakini saat itu bukan senyum yang terlukis di wajahku,
melainkan seringai pias dan ketakutan, sekaligus bodoh.
Je
terkekeh. Terbungkuk-bungkuk. Menepuk-nepuk pundakku. Aku ikut tertawa. Walau
sejujurnya, aku tak tahu untuk apa aku tertawa? Hidup memang penuh ironi dan
keganjilan. Untuk tertawa pun kita butuh alasan, apakah untuk bahagia kita juga
butuh alasan?
♦
ENAM
bulan setelah obrolan tentang tokoh cerita yang harus hidup dengan kakak tiri
yang mengerikan itu, Je meluncurkan novel dengan cerita hampir sama. Dia
berkisah tentang tokoh yang berkepribadian ganda. Tokoh yang jiwanya
tercabik-cabik oleh cakaran masa lalu yang begitu buas dan kejam. Jadi kuyakini
saja, jika waktu itu Je hanya bergurau.
Lain
waktu, saat Je mengajakku makan malam di warung tenda favoritnya, dia berkata:
“Seseorang di dalam diriku sangat marah ketika aku menuliskan cerita tentang
kakak tiri itu.”
Aku
yang tengah mengunyah mi goreng pedas hampir saja tersendak, rasa pedas cabai
memenuhi rongga hidung dan kerongkongan, aku harus menawarnya dengan setengah
gelas es teh. Kutegakkan leher dan memandangnya.
“Apa
kau masih meyakini jika ada banyak jiwa dalam dirimu?”
Dia
mengangguk. “Tentu.”
“Apa
jiwa-jiwa itu yang menjelma tokoh ceritamu?”
Dia
kembali mengangguk. “Iya.”
“Apa
mereka yang mengisahkan cerita-cerita dalam novelmu?”
Je
berdehem. “Iya.”
“Di
dalam kepalaku juga sangat banyak jiwa dan semua berebut menjadi tokoh utama.
Sayangnya, aku tak punya jiwa yang bisa menulis cerita seapik dirimu. Apa yang
harus kulakukan?”
Je
terkekeh, geli sendiri. Dan aku kebingungan, apa yang lucu? Apa yang harus
ditertawakan? Hei, lihatlah kehidupanku yang jauh lebih menyedihkan darimu!
Penerbit-penerbit sekarang berpikir sepuluh, oh tidak, dua puluh kali lipat
saat aku menawarkan naskah. Terima atau tidak. Untuk apa menerbitkan buku
penulis yang tak memiliki pasar? Untuk apa mempertaruhkan modal demikian besar
untuk sebuah karya yang sudah jelas probibilitasnya?
“Kau
hanya kurang pengalaman.”
“Pengalaman
menulis. Pengalaman berlatih. Pengalaman apa?”
“Kau
meyakini, setiap tulisan membutuhkan riset untuk lebih nyata, kan?”
“Iya.”
“Kau
harus melakukan itu.”
“Apa
jika aku menulis novel tentang kehidupan seorang homoseksual, aku pun harus
menjalani kehidupan homoseksual juga?”
“Tergantung,”
dia menyeringai. “Ada yang hanya perlu riset. Mewawancarai orang lain. Membaca
artikel. Membaca buku serupa. Menonton berita. Tapi aku percaya, pengalaman
pribadi yang bersinggungan dengan tema yang ditulis, akan jauh lebih mampu
menghidupkan karakter dan plot cerita tinimbang sekadar riset seperti itu.”
“Berarti
dengan kata lain, kau telah menjadi hantu untuk menguatkan cerita-cerita
tentang hantu kesepian dan patah hatimu?”
Dia
menggedikkan bahu. “Aku telah jadi hantu, jauh sebelum aku menuliskan kisah
hantu-hantu itu.”
♦
APA kau
percaya ada hantu yang bisa menuliskan kisah-kisah dari alam gaib? Apa kau
percaya jika ada seseorang yang bisa melihat hantu? Apa kau percaya jika
temanmu mengatakan bila di dalam dirinya ada begitu banyak jiwa yang terbentuk
karena cabikan kuku bernama masa lalu? Apa kau percaya dengan hal-hal seperti
itu? Aku terus berusaha percaya, walau tak sepenuh percaya, sampai Je membuat
pengakuan mengerikan ini. Sampai Je harus mengakhiri hidupnya dengan tragis.
“Katakan
saja, kau tak melakukannya. Cukup kata tidak. Aku akan mempercayainya sebagai
temanmu. Walau bahkan tak satu pun orang di muka bumi ini yang memercayaimu.
Aku akan tetap mempercayainya. Cukup satu kata. Tidak.”
Aku
menunggu dan dia duduk diam di depanku. Baju warna orange itu terlihat sangat
serasi di badannya yang berkulit putih. Matanya tetap sayu, seolah tak pernah
punya harapan hidup. Namun bukan itu yang membuatku khawatir, aku cemas dengan
sangkaan yang dialamatkan padanya. Je diduga membunuh seorang laki-laki
penghuni lantai dua apartemennya.
“Aku
ingin membuat sebuah pengakuan dan kuharap kau bisa menceritakannya pada orang
lain.” Dia tersenyum, kilatan matanya tak biasa, tetapi aku juga tersenyum.
Kuharap ini sebuah pembelaan yang bisa menyelamatkan dirinya.
“Apa
kau ingat dengan ceritaku tentang jiwa-jiwa kesepian yang bersemayam di
diriku?”
“Itu
ide dari novel-novel surammu.”
“Bagaimana
bila aku sudah jujur sejak awal?”
“Omong
kosong,” aku menepiskan tangan. “Kau jangan membuat drama lebih mengerikan, Je.
Harusnya kau membuka akun-akun sosial mediamu. Keributan mengerikan terjadi di
sana. Fans yang histeris dan tak terima. Para haters yang menumpahkan sumpah serapah. Aku seperti melihat kiamat
di sana.”
“Untuk
apa kita memedulikan orang lain, sementara hidup kita adalah tentang kita.”
“Je.”
“Aku
melakukannya. Aku yang membunuhnya. Lelaki itu mengingatkanku pada kakak
tiriku. Padahal aku sudah membunuhnya bertahun-tahun lalu.”
Jantungku
berdegup lebih kencang.
“Ada
banyak jiwa dalam diriku. Dalam dirimu. Seperti yang kau katakan saat kita
makan bersama. Aku yang melakukan semua ‘riset’ itu dan tugasmu hanya
menuliskan ceritanya. Biar lebih hidup. Kita sudah sepakat itu. Tapi jika kau
ingin mengakhirinya, kita harus mengakhirinya bersama. Sebab kita melakukannya
bersama.”
Aku
tergagap. “Apa maksudmu?”
“Sebab
kita adalah satu. Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Mereka yang di dalam cerita
adalah kita. Kita adalah mereka.”
Kurasa
kepalaku terlalu riuh dan hampir meledak. Sedetik berikutnya benar-benar
meledak.
♦
ADA cerita
yang ingin aku kisahkan, cerita ini berisi pengakuan dari seorang penulis
terkenal. Pengakuan ini kudapatkan sehari setelah dia ditemukan tewas dengan
menembak kepalanya. Aku bertandang ke rumahnya petang itu dan dia mengisahkan
cerita seram tentang jiwa-jiwa mengerikan yang ada dalam dirinya. Jiwa-jiwa
yang muncul dan hidup karena cakaran kuku bernama masa lalu. Akan kukisahkan
padamu.
Kita
harus mulai dari bagian pribadi, tentang dia yang tak pernah bahagia. Katanya
dia adalah hantu kesepian yang tumbuh di dalam otak dan benak pembacanya, lalu
perlahan dia akan memakan mereka lewat cerita-ceritanya. []
G59,
Pali. 2016.

Komentar
Posting Komentar