CERPEN - Pengakuan (PADANG EKSPRES, 23 Juli 2017)

ilustrasi diambil dari simplyzainitaayu.wordpress.com

CERITA berisi pengakuan tokoh kita ini, aku dengar langsung darinya, sehari sebelum dia mengakhiri hidup dengan menembak kepalanya. Sungguh, aku masih tak percaya jika dia bisa melakukan itu. Aku masih menerka-nerka sampai sekarang, apa alasan yang telah mendorongnya mengambil jalan pintas itu? Dia penulis laris. Punya fans fanatik yang akan membeli apa pun bukunya, bahkan sekali pun dia menerbitkan buku yang hanya berisi catatan tentang kegiatan hariannya yang membosankan dan memuakkan.
Nama tokoh kita Je. Dia penulis novel tentang hantu-hantu yang kesepian. Ceritanya terlalu muram, seperti hidupnya yang tak pernah bahagia. Kurasa, ada benarnya juga omongan orang-orang yang mengatakan bila secara sadar atau pun tidak, para penulis itu acapkali memasukan kisah hidupnya dalam tulisannya. Kuyakini Je pun melakukan itu. Dan dialah tokoh kita dalam cerita ini.
Pengakuan yang dia berikan padaku, bukan tentang hidupnya yang tak bahagia. Kalau hal itu, aku sudah tahu cukup lama. Kami berteman sejak sepuluh tahun lalu, saat sama-sama merintis karier menulis. Namun nasib baik lebih berpihak kepadanya. Dia cepat populer dengan novel-novel muramnya. Sementara aku? Ah, dari sekian banyak novelku, tak ada satu pun yang cetak ulang. Semua gagal di pasaran. Bahkan aku pernah menemukan novelku yang terbit tiga bulan sebelumnya sudah masuk rak obral.
Perihal hidupnya yang tak bahagia, akan kuceritakan sekarang, sebelum aku mengisahkan pengakuan yang mengejutkan –setidaknya bagiku.
MENDENGAR cerita Je tentang hidupnya, seperti membaca halaman novel picisan yang digemari para fansnya. Aku yakin sekali, jika Je menuliskan cerita hidupnya dalam sebuah novel. Buku itu akan jauh lebih laris dan lebih membekas di benak pembacanya, tinimbang novel terlarisnya sekali pun. Sayangnya dia tak pernah melakukan itu.
“Kurasa ada jiwa lain dalam diriku.”
Aku ingat sekali dengan ucapannya itu. Kutatap wajahnya, mencari gurat-gurat pertanda jika dia tengah bercanda. Sayangnya, aku tak menemukan itu. Dia terlihat serius, jauh lebih serius dari sebelumnya.
“Jiwa lain. Maksudmu?”
“Kau pernah membaca novel tentang 24 Wajah Billy?” Dia justru balik bertanya.
Aku mengangguk. Aku ingat dengan novel mengerikan itu. Kubaca saat masih duduk di bangku kuliah.
“Maksudmu, kau berkepribadian ganda?” aku menelengkan kepala, memusatkan perhatian pada dirinya. Mengamati segala gerak geriknya.
“Kurasa kurang tepat, tapi lebih kurang seperti itu.”
“Ada berapa banyak jiwa dalam dirimu?” aku mengajukan pertanyaan itu sembari terkekeh. Menepuk-nepuk pundaknya. “Kau terlalu berlebihan, Je. Setiap pengarang memiliki banyak kepribadian, itulah yang membuatnya dapat menuliskan berbagai karakter. Kurasa itu yang kau maksud.”
“Ibuku bercerai saat aku berumur tujuh tahun. Lalu kami pindah ke Kota J.” Dia tak mengacuhkan gurauanku. “Lalu setahun setelahnya dia menikah lagi. Ayah tiriku punya dua orang anak laki-laki. Mereka sudah SMA. Dapat kau terka apa yang terjadi pada adik tiri yang berumur delapan tahun?”
Dia memandangku dengan kilatan mata yang tak biasa. Seperti ada perangkap mengerikan yang tak bisa diraba di sana. Senyumnya tipis, seolah mengejek saat aku menggeleng dan mengucapkan kata “tidak tahu”.
“Tidak tahu atau kau terlalu takut membayangkannya?”
Aku menelan ludah. Kuyakini sekarang, Je adalah hantu kesepian dari dongeng-dongeng yang dia kemas sendiri dalam novelnya.
“Aku harus tidur sekamar dengan dua kakak tiriku yang telah beranjak remaja. Usia 15 dan 17 tahun, waktu yang sempurna saat telur-telur matang dalam kantung kemih mereka. Sayangnya, mereka tak punya tempat untuk menumpahkannya. Dan sialnya, aku muncul di waktu yang sangat pas bagi mereka.”
Aku menelan ludah lagi. Bulu kudukku meriap. Tengkukku dingin. Dan perutku… mual!
“Jika kau ingin tahu rasanya, aku tak dapat menggambarkannya dengan sangat pas. Tapi akan kuberi gambaran, seperti dikuliti. Dan tak ada yang bisa dilakukan selain bertahan untuk terus hidup, walau kau sendiri tak pernah tahu, apa makna hidup itu sendiri?”
Aku senyap. Tak tahu harus berkata apa.
“Apa ini semacam plot dari novel baru yang tengah kau garap?” aku berusaha tersenyum, walau kuyakini saat itu bukan senyum yang terlukis di wajahku, melainkan seringai pias dan ketakutan, sekaligus bodoh.
Je terkekeh. Terbungkuk-bungkuk. Menepuk-nepuk pundakku. Aku ikut tertawa. Walau sejujurnya, aku tak tahu untuk apa aku tertawa? Hidup memang penuh ironi dan keganjilan. Untuk tertawa pun kita butuh alasan, apakah untuk bahagia kita juga butuh alasan?
ENAM bulan setelah obrolan tentang tokoh cerita yang harus hidup dengan kakak tiri yang mengerikan itu, Je meluncurkan novel dengan cerita hampir sama. Dia berkisah tentang tokoh yang berkepribadian ganda. Tokoh yang jiwanya tercabik-cabik oleh cakaran masa lalu yang begitu buas dan kejam. Jadi kuyakini saja, jika waktu itu Je hanya bergurau.
Lain waktu, saat Je mengajakku makan malam di warung tenda favoritnya, dia berkata: “Seseorang di dalam diriku sangat marah ketika aku menuliskan cerita tentang kakak tiri itu.”
Aku yang tengah mengunyah mi goreng pedas hampir saja tersendak, rasa pedas cabai memenuhi rongga hidung dan kerongkongan, aku harus menawarnya dengan setengah gelas es teh. Kutegakkan leher dan memandangnya.
“Apa kau masih meyakini jika ada banyak jiwa dalam dirimu?”
Dia mengangguk. “Tentu.”
“Apa jiwa-jiwa itu yang menjelma tokoh ceritamu?”
Dia kembali mengangguk. “Iya.”
“Apa mereka yang mengisahkan cerita-cerita dalam novelmu?”
Je berdehem. “Iya.”
“Di dalam kepalaku juga sangat banyak jiwa dan semua berebut menjadi tokoh utama. Sayangnya, aku tak punya jiwa yang bisa menulis cerita seapik dirimu. Apa yang harus kulakukan?”
Je terkekeh, geli sendiri. Dan aku kebingungan, apa yang lucu? Apa yang harus ditertawakan? Hei, lihatlah kehidupanku yang jauh lebih menyedihkan darimu! Penerbit-penerbit sekarang berpikir sepuluh, oh tidak, dua puluh kali lipat saat aku menawarkan naskah. Terima atau tidak. Untuk apa menerbitkan buku penulis yang tak memiliki pasar? Untuk apa mempertaruhkan modal demikian besar untuk sebuah karya yang sudah jelas probibilitasnya?
“Kau hanya kurang pengalaman.”
“Pengalaman menulis. Pengalaman berlatih. Pengalaman apa?”
“Kau meyakini, setiap tulisan membutuhkan riset untuk lebih nyata, kan?”
“Iya.”
“Kau harus melakukan itu.”
“Apa jika aku menulis novel tentang kehidupan seorang homoseksual, aku pun harus menjalani kehidupan homoseksual juga?”
“Tergantung,” dia menyeringai. “Ada yang hanya perlu riset. Mewawancarai orang lain. Membaca artikel. Membaca buku serupa. Menonton berita. Tapi aku percaya, pengalaman pribadi yang bersinggungan dengan tema yang ditulis, akan jauh lebih mampu menghidupkan karakter dan plot cerita tinimbang sekadar riset seperti itu.”
“Berarti dengan kata lain, kau telah menjadi hantu untuk menguatkan cerita-cerita tentang hantu kesepian dan patah hatimu?”
Dia menggedikkan bahu. “Aku telah jadi hantu, jauh sebelum aku menuliskan kisah hantu-hantu itu.”
APA kau percaya ada hantu yang bisa menuliskan kisah-kisah dari alam gaib? Apa kau percaya jika ada seseorang yang bisa melihat hantu? Apa kau percaya jika temanmu mengatakan bila di dalam dirinya ada begitu banyak jiwa yang terbentuk karena cabikan kuku bernama masa lalu? Apa kau percaya dengan hal-hal seperti itu? Aku terus berusaha percaya, walau tak sepenuh percaya, sampai Je membuat pengakuan mengerikan ini. Sampai Je harus mengakhiri hidupnya dengan tragis.
“Katakan saja, kau tak melakukannya. Cukup kata tidak. Aku akan mempercayainya sebagai temanmu. Walau bahkan tak satu pun orang di muka bumi ini yang memercayaimu. Aku akan tetap mempercayainya. Cukup satu kata. Tidak.”
Aku menunggu dan dia duduk diam di depanku. Baju warna orange itu terlihat sangat serasi di badannya yang berkulit putih. Matanya tetap sayu, seolah tak pernah punya harapan hidup. Namun bukan itu yang membuatku khawatir, aku cemas dengan sangkaan yang dialamatkan padanya. Je diduga membunuh seorang laki-laki penghuni lantai dua apartemennya.
“Aku ingin membuat sebuah pengakuan dan kuharap kau bisa menceritakannya pada orang lain.” Dia tersenyum, kilatan matanya tak biasa, tetapi aku juga tersenyum. Kuharap ini sebuah pembelaan yang bisa menyelamatkan dirinya.
“Apa kau ingat dengan ceritaku tentang jiwa-jiwa kesepian yang bersemayam di diriku?”
“Itu ide dari novel-novel surammu.”
“Bagaimana bila aku sudah jujur sejak awal?”
“Omong kosong,” aku menepiskan tangan. “Kau jangan membuat drama lebih mengerikan, Je. Harusnya kau membuka akun-akun sosial mediamu. Keributan mengerikan terjadi di sana. Fans yang histeris dan tak terima. Para haters yang menumpahkan sumpah serapah. Aku seperti melihat kiamat di sana.”
“Untuk apa kita memedulikan orang lain, sementara hidup kita adalah tentang kita.”
“Je.”
“Aku melakukannya. Aku yang membunuhnya. Lelaki itu mengingatkanku pada kakak tiriku. Padahal aku sudah membunuhnya bertahun-tahun lalu.”
Jantungku berdegup lebih kencang.
“Ada banyak jiwa dalam diriku. Dalam dirimu. Seperti yang kau katakan saat kita makan bersama. Aku yang melakukan semua ‘riset’ itu dan tugasmu hanya menuliskan ceritanya. Biar lebih hidup. Kita sudah sepakat itu. Tapi jika kau ingin mengakhirinya, kita harus mengakhirinya bersama. Sebab kita melakukannya bersama.”
Aku tergagap. “Apa maksudmu?”
“Sebab kita adalah satu. Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Mereka yang di dalam cerita adalah kita. Kita adalah mereka.”
Kurasa kepalaku terlalu riuh dan hampir meledak. Sedetik berikutnya benar-benar meledak.
ADA cerita yang ingin aku kisahkan, cerita ini berisi pengakuan dari seorang penulis terkenal. Pengakuan ini kudapatkan sehari setelah dia ditemukan tewas dengan menembak kepalanya. Aku bertandang ke rumahnya petang itu dan dia mengisahkan cerita seram tentang jiwa-jiwa mengerikan yang ada dalam dirinya. Jiwa-jiwa yang muncul dan hidup karena cakaran kuku bernama masa lalu. Akan kukisahkan padamu.
Kita harus mulai dari bagian pribadi, tentang dia yang tak pernah bahagia. Katanya dia adalah hantu kesepian yang tumbuh di dalam otak dan benak pembacanya, lalu perlahan dia akan memakan mereka lewat cerita-ceritanya. []


G59, Pali. 2016.

Komentar